Meskipun  gempa bumi belum dapat diprediksi, beberapa kelompok ilmuwan sudah pernah memperingatkan akan kemungkinan terjadinya gempa Haiti (12/01/2010, 7.0 SR) 2 tahun sebelumnya, yaitu sejak tahun 2008.  Hal itu diberitakan di banyak media on-line, salahsatunya saya kutipkan di bawah ini:

A team of scientists, including a Purdue University geophysicist, warned Haiti officials in 2008 that pressure along a fault line had reached a breaking point.

Eric Calais, a professor of geophysics who has been studying plate tectonics in the Caribbean since 1989, said the earthquake struck along the Enriquillo Fault. Similar to the San Andreas Fault in California, it marks the boundary where two tectonic plates are moving in opposite directions.

Pressure had been building along the fault for 240 years — ever since the last major quake.”The essence is that we know from strong scientific evidence that this particular (fault) could at any time rupture, and that if the rupture happened today, it would be a magnitude 7 earthquake and that most of the city would be destroyed,” Calais said. “And that’s what happened.”

Hasil penelitian berdasarkan data pengukuran GPS dan geologi telah mereka presentasikan dalam suatu pertemuan ilmiah tahun 2008 yg membahas geologi dan tektonik daerah Karibia di Jamaika, negara tetangga Haiti. Para ilmuwan itu juga berkesempatan menyampaikan peringatan itu ke pemerintah Haiti.

Namun, sebagaimana halnya peringatan akan bahaya gempa bumi pada umumnya mereka tidak bisa memberikan time frame-nya. Selain itu Haiti sangat disibukkan oleh masalah pertikaian politik dan bersenjata yg berkepanjangan, juga bencana angin topan yg terjadi cukup sering di daerah itu. Intinya, Haiti memang tidak siap.

Lalu, sebenarnya apa yg bisa dilakukan?

Secara garis besar penelitian geodetik / geodinamika perlu dilakukan untuk memperkirakan kecepatan pergerakan lempeng yg saling bertumbukan, seperti terjadi pada zona subduksi. Ditunjang oleh data geologi dan sejarah kejadian gempa di masa lalu, maka dapat diperkirakan tingkat akumulasi stress pada zona-zona tertentu.

Yg juga penting adalah penyelidikan pada patahan aktif yg juga mengakumulasi energi akibat desakan lempeng. Patahan aktif tsb. bisa terdapat di darat yg jauh dari zona subduksi. Sebagian patahan sudah dapat diidentifikasi keberadaannya, namun belum diketahui kecepatan pergeserannya. Patahan lain ada juga yg keberadaannya-pun belum diketahui atau masih menjadi perdebatan diantara para ahli geologi karena tertutup oleh sedimen atau produk vulkanik. Pada dasarnya patahan aktif dapat di-delineasi dengan memanfaatkan metoda geofisika.

Ketidakmampuan ilmuwan memberikan time-frame dalam memberikan peringatan tentang kemungkinan bahaya gempa seharusnya tidak menafikan usaha-usaha penelitian tentang gempa bumi secara komprehensif.